Tahun Baru Mengguncang Ketika Bumi dan Langit Bersekutu Menguji Negara Iran
Tahun Baru Mengguncang Ketika Bumi dan Langit Bersekutu Menguji Negara Iran
_Iran dalam ujian berat sebagai sebuah bangsa merdeka berada di ambang titik didih tertinggi_
Oleh: Yoga Duwarto
Baiklah kita bayangkan sebuah negara yang selama puluhan tahun mencoba berdiri tegak di tengah kepungan sanksi, namun kini justru sedang digerogoti oleh keroposnya fondasi internal mereka sendiri. Ketika bangsa lain berharap Tahun Baru ini menjadi gerbang perbaikan, malah per Januari 2026, negara Iran bukan sekadar sedang menghadapi masalah biasa, karena di penghujung tahun dan awal tahun ini sedang terjebak dalam sebuah labirin krisis yang saling mengunci antara perut yang lapar, tanah yang pecah karena kekeringan, dan kemarahan rakyat yang kian mendidih di jalanan.
Situasi ekonomi menjadi sumbu paling pendek yang dengan cepat memicu ledakan ini. Bayangkan betapa menyesakkannya ketika mata uang nasional, Rial, terjun bebas tidak kira-kira hingga menyentuh angka 1,45 juta per satu dolar Amerika.
Di pasar-pasar tradisional Teheran hingga Tabriz, harga-harga pangan melonjak naik hingga lebih dari 70 persen, jelas mengubah harga daging dan minyak goreng menjadi barang mewah yang tak terjangkau bagi sebagian besar keluarga.
Tekanan ekonomi ini terasa kian mencekik karena Iran terjebak dalam dilema ketergantungan pangan yang sangat dalam. Meski pemerintah selalu mendengungkan narasi swasembada sebagai simbol harga diri bangsa, kenyataannya dapur-dapur di Iran masih sangat bergantung pada pasokan dunia luar. Hampir sepertiga kebutuhan pangan pokok harus didatangkan melalui impor. Ketergantungan ini menjadi lebih ekstrem pada sektor pakan ternak dan minyak nabati yang angka impornya mencapai 75 persen lebih. Ketika devisa negara menipis akibat sanksi internasional dan nilai mata uang Rial hancur lebur, dan biaya untuk mendatangkan bahan makanan ini menjadi beban raksasa yang nyaris mustahil dipikul oleh anggaran negara.
Rakyat Iran tidak hanya menghadapi harga yang mahal, tetapi juga ancaman nyata akan rak-rak toko yang kosong.
Namun, di balik angka-angka statistik dan perdebatan politik kekuasaan, ada kepentingan rakyat jelata yang jauh lebih mendasar, yaitu hak untuk dari sekadar menyambung kebutuhan dasar hidup. Bagi seorang ayah di pinggiran Isfahan atau seorang ibu di Teheran, krisis ini bukan lagi soal ideologi atau siapa yang duduk di kursi pemerintahan, melainkan soal apakah air akan mengalir saat keran dibuka besok pagi.
Karena krisis air juga melanda Iran adalah sebuah tragedi ekologis yang lahir dari ambisi masa lalu yang dipaksakan. Dimana cadangan air di waduk-waduk utama kini berada di bawah level 10 persen, telah menciptakan ketakutan nyata akan kegagalan sanitasi dan kesehatan publik. Tanah yang amblas hingga puluhan sentimeter per tahun bukan sekadar data teknis bagi warga, itu berarti dinding rumah yang retak, jalur kereta yang tak lagi aman, dan rasa cemas bahwa bumi yang mereka injak sewaktu-waktu bisa runtuh.
Kepentingan rakyat ini sering kali terhimpit di antara ambisi penguasa dan tekanan global. Mereka membutuhkan akses terhadap obat-obatan yang kian langka, udara bersih di kota-kota yang mulai sesak oleh polusi debu akibat mengeringnya danau, serta kepastian bahwa pendidikan anak-anak mereka tidak terhenti karena ekonomi yang lumpuh.
Protes besar yang pecah di awal tahun 2026 ini sebenarnya adalah manifestasi dari rasa lelah yang luar biasa. Rakyat tidak sedang meminta kemewahan, karena mereka sungguh meminta martabat, dan kemampuan untuk bekerja dengan upah yang cukup untuk membeli gandum, dan hidup di lingkungan yang tidak sedang sekarat secara ekologis.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Iran hari ini menjadi cermin betapa rapuhnya kedaulatan sebuah bangsa ketika kebutuhan dasar rakyatnya terabaikan oleh pusaran konflik. Sejarah mungkin akan mencatat tahun 2026 bukan sebagai akhir, melainkan sebagai persimpangan jalan yang menentukan. Di antara retakan tanah yang menganga dan nilai mata uang yang kian tak bermakna, ada jutaan manusia rakyat Iran yang hanya ingin hari esok lebih pasti daripada hari ini.
Iran saat ini tidak hanya sedang bertarung dengan tekanan luar negeri, tetapi juga sedang diuji untuk kembali mendengarkan suara dari rumah-rumah warganya yang sunyi, tempat di mana harapan sering kali lebih kering daripada tanah mereka sendiri.
Sabtu, 3 Januari 2026
Artikel Tahun Baru Mengguncang Ketika Bumi dan Langit Bersekutu Menguji Negara Iran pertama kali tampil pada Portal Berita Kristen Indonesia.