*HUTAN ADALAH NAFAS KITA* *Ketika Pohon Terakhir Ditebang, Kita Baru Mengerti Arti Bernapas*
*HUTAN ADALAH NAFAS KITA*
*Ketika Pohon Terakhir Ditebang, Kita Baru Mengerti Arti Bernapas*
Pagi hari di sebuah desa yang dulu hijau.
Udara tak lagi dingin, embun tak lagi setia. Yang tersisa hanyalah debu halus yang menempel di paru-paru, dan panas yang datang terlalu cepat—seolah matahari marah karena kehilangan pelindungnya.
Di sanalah kita seharusnya berhenti sejenak dan bertanya:
Sejak kapan nafas kita menjadi barang murah?
*Hutan Bukan Latar Belakang, Ia Adalah Organ Vital*
Hutan sering diperlakukan seperti dekorasi: *indah kalau ada, tak masalah kalau hilang*. Padahal hutan bukan latar belakang kehidupan—ia adalah organ utama. Seperti paru-paru dalam tubuh manusia, hutan bekerja diam-diam, tanpa tepuk tangan, tanpa sorotan kamera.
Ia menyerap racun, menahan banjir, menstabilkan iklim, dan mengatur siklus air. Ketika hutan berdiri tegak, kita jarang sadar sedang diselamatkan setiap hari.
Masalahnya, manusia baru panik ketika mesin oksigen dipasang di rumah sakit.
*Nafas yang Tak Pernah Dihitung dalam Anggaran*
Di ruang rapat ber-AC, hutan diubah menjadi angka.
Hektare. Konsesi. Target produksi. Royalti. Denda.
Tak ada kolom bernama nafas anak-anak.
Tak ada grafik tentang udara bersih bagi generasi berikutnya.
Kerusakan ekologis direduksi menjadi biaya operasional. Bencana dianggap efek samping. Banjir, longsor, kekeringan—semuanya disebut _“musibah alam”_, seolah alam datang tanpa sebab, seolah tangan manusia tak pernah menyentuhnya.
Padahal alam tidak pernah menyerang.
Ia hanya menagih.
*Saat Hutan Runtuh, Nafas Menjadi Mewah*
Ketika pohon terakhir di lereng ditebang, hujan berubah menjadi ancaman. Sungai meluap bukan karena air berlebihan, tetapi karena tanah kehilangan kemampuan menahan.
Ketika hutan gambut dikeringkan, api tidak lagi butuh korek. Asap menyelimuti kota, sekolah ditutup, bayi sesak, orang tua batuk berkepanjangan. Nafas yang dulu gratis kini harus dibeli dengan masker, obat, dan biaya rumah sakit.
Ironisnya, mereka yang paling sedikit menikmati hasil penebangan adalah yang paling dulu kehabisan udara.
*Kita Hidup dari Hutan, Bukan di Atasnya*
Ada kebohongan besar yang diwariskan: bahwa manusia berada di puncak, dan alam di bawah. Padahal kenyataannya lebih sederhana dan lebih kejam—kita bergantung, bukan berkuasa.
Tak ada teknologi yang bisa menggantikan satu hutan hujan tropis yang utuh. Tak ada inovasi yang mampu meniru kerja jutaan akar, daun, mikroba, dan serangga yang bekerja serempak selama ribuan tahun.
Sekali rusak, ia tak bisa dipercepat seperti proyek infrastruktur.
Hutan punya waktunya sendiri.
Dan waktu itu tidak bisa disuap.
*Nafas Adalah Hak, Bukan Bonus*
Jika air bersih adalah hak, maka udara bersih adalah hak yang lebih purba.
Dan hutan adalah penjaganya.
Menyelamatkan hutan bukan soal romantisme hijau, bukan pula urusan aktivis semata. Ini soal bertahan hidup. Soal apakah anak-anak kita kelak akan menghirup udara, atau hanya mewarisi cerita bahwa dulu langit pernah biru.
*Epilog: Sebelum Terlambat Menghirup*
Hutan tidak berteriak.
Ia tidak mogok kerja.
Ia hanya perlahan berhenti berfungsi.
Dan ketika ia berhenti, kita tak langsung mati. Kita hanya mulai sesak—pelan, normal, lalu dianggap biasa.
Sampai suatu hari, kita sadar:
*yang habis bukan hutannya, tapi nafas kita sendiri”.
Karena pada akhirnya,
hutan bukan milik kita.
Kitalah yang hidup dari nafasnya.
*Lhynaa Marlinaa*
Artikel *HUTAN ADALAH NAFAS KITA* *Ketika Pohon Terakhir Ditebang, Kita Baru Mengerti Arti Bernapas* pertama kali tampil pada Portal Berita Kristen Indonesia.