Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) : Intoleransi Marak Akibat Salah Pahami Pancasila
pada tanggal
Jumat, 01 Juni 2012
Edit
JAKARTA - Bangsa Indonesia sudah mendapatkan anugerah berupa beragam suku dan agama sehingga perbedaan tak boleh disingkirkan termasuk ketidakpahaman terhadap Pancasila yang dianggap menjadi faktor timbulnya kecenderungan-kecenderungan intoleransi yang marak akhir-akhir ini. Antara lain, dibatasinya kebebasan beribadah seperti yang terjadi pada kasus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ciketing dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Bogor.
Menurut Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Andreas Yewangoe, keadaan ini terjadi karena Pancasila tidak lagi dipahami secara benar. Padahal, lanjut dia, sila pertama Pancasila harus dipahami dengan memahami sila kedua soal kemanusiaan yang adil dan beradab dalam kerangka persatuan Indonesia.
"Kalau dilepaskan dari sila kemanusiaan maka dengan mudah kita menafikan keberadaan orang lain bahkan dengan menyeru nama Tuhan kita melakukan pembunuhan," kata Ketua PGI Andreas Yewangoe di gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Jumat (01/06/2012).
Pdt Andreas mengatakan, bangsa Indonesia sudah mendapatkan anugerah berupa beragam suku dan agama sehingga perbedaan tak boleh disingkirkan.
"Tidak pernah boleh ada yang memaksakan sebuah keseragaman lebih-lebih dalam berekspresi dan berpendapat, pemaksaan 'keseragaman' adalah sikap merasa diri paling benar," tutur dia
Indonesia, kata Pdt Andreas, merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di Indonesia. Namun, demokrasi bukan berarti selalu mengandalkan suara terbanyak.
"Ada nilai-nilai yang mesti diperhatikan dengan seksama yang mengacu pada kemanusiaan yang dan beradab dan persatuan Indonesia," tandas dia.
Dalam acara peringatan 1 Juni ini, empat tokoh agama diberikan kesempatan memberikan pidato setelah wakil presiden Boediono. Selain Pdt Andreas, hadir pula Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr Martinus D.Situmorang, serta Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin juga memberikan pidatonya tentang Pancasila. (BeritaSatu)
![]() |
Surat Terbuka Kepada Rakyat dari Tokoh Lintas Agama (2011) |
"Kalau dilepaskan dari sila kemanusiaan maka dengan mudah kita menafikan keberadaan orang lain bahkan dengan menyeru nama Tuhan kita melakukan pembunuhan," kata Ketua PGI Andreas Yewangoe di gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Jumat (01/06/2012).
Pdt Andreas mengatakan, bangsa Indonesia sudah mendapatkan anugerah berupa beragam suku dan agama sehingga perbedaan tak boleh disingkirkan.
"Tidak pernah boleh ada yang memaksakan sebuah keseragaman lebih-lebih dalam berekspresi dan berpendapat, pemaksaan 'keseragaman' adalah sikap merasa diri paling benar," tutur dia
Indonesia, kata Pdt Andreas, merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di Indonesia. Namun, demokrasi bukan berarti selalu mengandalkan suara terbanyak.
"Ada nilai-nilai yang mesti diperhatikan dengan seksama yang mengacu pada kemanusiaan yang dan beradab dan persatuan Indonesia," tandas dia.
Dalam acara peringatan 1 Juni ini, empat tokoh agama diberikan kesempatan memberikan pidato setelah wakil presiden Boediono. Selain Pdt Andreas, hadir pula Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr Martinus D.Situmorang, serta Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin juga memberikan pidatonya tentang Pancasila. (BeritaSatu)
